Minggu, 10 April 2011

Mengapa Saya Harus Menulis?

Boleh dikatakan sebagian besar mahasisiwa saat ini tidak pernah menulis sama sekali begitu juga dengan saya. Jangankan untuk menulis bahkan untuk membaca saja kadang saya suka malas. Tidak tahu apakah ini sudah jadi kebiasaan yang mendarah daging atau karena memang tidak ada waktu untuk membaca? Dalam belajar saya lebih suka apabila ada penggabungan audio visual karena anggapan saya ini lebih mudah untuk saya cerna dan tidak perlu konsentrasi yang penuh.

Hari-hari sebagai mahasiswa saya terlewatkan begitu saja tanpa memikirkan kualitas intelektual yang saya miliki sampai satu hari sayapun tersadar di jenjang pendidikan saya yang D3 ini apakah mampu bersaing dalam dunia kerja maupun usaha apabila saya tidak mempunyai skill sama sekali yang bisa ditonjolkan nanti. Mungkin satu kebetulan atau tidak sayapun sekarang ingin mencoba untuk menulis karena keuntungannya dalam mengasah otak dan kepekaan kita terhadap sekitar akan semakin terasah.

Dimulai ketika saya mengikuti Regular Meeting bersama Club saya yaitu Rotaract Jakarta Sentral yang menghadirkan seorang guest speaker seorang penulis dan wartawan. Pertama saya kurang tertarik akan hal itu tapi saya ingin mengetahui bagaimana selak beluk seorang penulis itu sendiri dan satu kesimpulan yang dapat saya ambil dari penulis tersebut yaitu “Apakah kita ingin hidup di dunia ini tanpa meninggalkan sebuah kesan kepada dunia?” dan kesan itu adalah sebuah tulisan atau buku kita yang bermanfaat untuk orang lain dan secara tidak langsung orang lainpun akan mengenang kita.

Pada saat itu diadakan lomba menulis kecil-kecilan dengan tema “Apa yang ingin anda persembahkan untuk club anda?” tak disangka-sangka ternyata sayapun menang dan mendapatkan sebuah buku dari penulis tersebut beserta tanda-tangannya, semangat sayapun semakin bertambah untuk belajar menulis.

Semenjak itu saya terus memikirkan hal tersebut sampai-sampai pada akhirnya seorang dosen saya yang juga penulis dan wartawan senior tersebut memberikan saya bukunya karena saya menjawab sebuah perntanyaan dari beliau. Sayapun langsung berangan-angan betapa hebatnya saya apabila bisa melakukan hal tersebut, rasa ingin belajar menulispun semakin besar yang saya rasakan.

Kebetulan dalam semester 3 ini saya mendapatkan mata kuliah Penulisan Naskah Kehumasan dan materi pertama yaitu menulis sebuah artikel. Saya akui dosen saya yang satu ini memang sangat pintar dan detail dalam setiap penulisan. Beliau mengatakan kepada saya “kenapa tidak mencoba menulis dan mengirimkannya kepada media cetak? Bukan masalah uangnya tapi apabila artikel kita diterima dan dimuat di media cetak setidaknya dari pemikiran kita ini bisa diterima oleh orang lain minimal redaksi itu sendiri. Masa redaksi dari sebuah perusahaan media cetak yang sudah berpengalaman menampilkan artikel yang tidak bagus.” Sayapun langsung berfikir benar juga perkataan beliau apakah kita tidak bangga apabila pemikiran kita sudah dianggap minimal oleh orang-orang penting yang ada di sebuah perusahaan media cetak.

Semenjak itupun saya belajar teori-teori tentang penulisan oleh dosen saya yang telah diajarkannya. Setelah saya mengetahui berbagai teori yang ada tinggal bagaimana sekarang saya mempraktekannya dan menurut saya inilah masalah besar saya yaitu malas mencoba dan merasa sibuk tidak ada waktu untuk menulis. Sayapun mengingat perkataan dosen saya lagi yaitu “kita semua punya kosa kata yang baik dalam pikiran kita masing-masing dari berbagai referensi yang kita dapat tapi sayangnya kita tidak pernah mencoba atau memaksakannya untuk keluar dalam pikiran kita dan cara yang paling baik saat ini adalah kita coba memaksakannya untuk keluar dalam pikiran kita.”

Setelah saya berfikir beberapa minggu akhirnya pada hari ini saya memutuskan untuk mencoba mempraktekan apa-apa saja teori yang sudah saya dapatkan dalam blog pribadi saya ini. Mungkin saya belum bisa mencoba dalam hal yang besar tapi saya sekarang etidaknya mencoba dalam hal kecil dulu dan bagian yang paling terpenting dari semuanya adalah bagaimana perasaan kita peka terhadap sesuatu dan banyaknya referensi terhadap hal tersebut yang membuat kita semakin semangat untuk melakukannya dan tidak hanya berdiam diri tetapi harus ada action.

Satu lagi saya ingin menyanggah sebuah pernyataan seperti ini “Penulis itu pengecut karena hanya berani dalam tulisan saja”. Pernyataan itu tidak benar keberadaannya karena apabila kita lihat dalam persperktif sebuah pemikiran yang ilmiah itu merupakan suatu cara seseorang untuk mengungkapkan sesuatu yang mereka anggap tabu, menarik, penting, dll. Karena setiap orang mempunyai cara sendiri-sendiri untuk melakukan sesuatu ada yang melalui pena dan ada yang melalui tenaga mereka. Oleh karena itu sekarang saya sebagai kaum intelektual mencoba berjuang melaluli tulisan-tulisan saya nantinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar